Friday, January 30, 2009

Buyan Tidak Di Jual Untuk Investor

sudarma

Hore...Hore... Buyan bakalan tetep asri, Buyan tidak akan ada yang ngutik lagi. :D. Setelah baca koran balipost yang menyebutkan komitment Mangku Pastika yang tidak akan menjual Buyan kepada investor. Kasus ini sudah lama menjadi masalah yang pelik di Bali. Semua krama Bali ( warga Bali) dengan tegas menolak rencana investor yang akan menjadikan buyan sebagai daerah jajahan yang akan dijadikan panggung terapung. Kenapa Krama Bali menolak?? Karena menurut kami Danau adalah tempat yang suci, sakral. Jadi kami krama Bali memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian Danau Buyan. Coba sobat bayangkan, seandainya rencana investor terwujud, entah apa yang akan terjadi di Buyan. Diskotik akan berdiri, penginapan menjamur, busyet... Kata suci gak bakalan bisa dikumandangkan lagi di danau Buyan.

Thank Pak Mangku, Anda Telah menunjukkan bukti kalau anda akan mewujudkan Bali yang Mandara :).

Berikut adalah berita yang saya kutip langsung dari Balipost

Mangku Pastika: Saya Takkan Jual Kepala kepada Investor

Denpasar (Bali Post) -
Rencana eksploitasi Danau Buyan sudah tamat. Hal ini menyusul keputusan Gubernur Bali Drs. Made Mangku Pastika yang menolak rencana PT Anantara mengelola kawasan Danau Buyan. Penolakan itu disampaikannya ketika menerima peserta demo dari Forum Peduli Bhisama, Kawasan Suci dan Pemangku Sejagat Bali di Ruang Wiswa Sabha Utama, Jumat (30/1) kemarin.

Mangku Pastika menyatakan sangat setuju 100 persen bulat untuk menyelamatkan Bali. Atas dasar itu pula, ia sengaja meninggalkan sebuah acara untuk menerima pendemo dan menyampaikan sikapnya. 'Jangan berpikir Mangku Pastika bisa dibeli investor. Berapa pun orang membeli, saya tak akan menjual kepala saya kepada investor,' ucapnya dengan suara lantang.

Ia yang didampingi Asisten I Setwilda Bali I Gusti Made Sunendra, S.H. menyatakan komitmennya untuk menjaga Bali dengan segenap jiwa dan raga. Dia juga menegaskan kembali sikapnya usai menerima PT Anantara, 9 Januari lalu. 'Ketika itu saya belum berkata ya kepada investor. Saya baru mendengar pemaparan investor. Saya menyatakan silakan dikaji secara fisiologis, agama, adat, budaya dan ekonomis. Ingat ekonomi pertimbangan nomor lima,' jelasnya.

Tentang ibu pertiwi menangis sebagaimana dideklamasikan oleh pendemo, ia juga sependapat. 'Saya juga menangis. Setiap kali saya pulang ke Seririt sejak lima tahun lalu daratan Danau Buyan makin lebar. Kini lebih dari 60 ha luas Danau Buyan berkurang menjadi daratan,' katanya. Selain itu 260 dari 400 buah sungai di Bali sudah kering. Sisanya 140 sungai menuju kering. 'Di hulu hutan ditebang, di tengah sungai dicemari. 10 tahun ke depan Bali menjadi padang pasir, jika tak diselamatkan,' katanya.

Karena itu, tegas Gubernur, penyelamatan Bali tak hanya sebatas alamnya, juga orang, adat dan budayanya. 'Saya tak ingin meninggalkan Bali kering dan agama Hindu harus tetap lestari serta diamalkan oleh masyarakat Bali.'

Ibu Pertiwi

Sebelum Gubernur Bali mengucapkan keputusan penting ini, massa berpakaian adat dan pemangku yang memenuhi Ruang Wiswa Sabha mengawali dengan menyanyikan lagu 'Ibu Pertiwi' dan 'Padamu Negeri'. Lagu itu juga disertai deklamasi oleh Si Ketut Mandiranatha. 'Hentikan jerit tangis anak negeri. Jangan jadikan Bali sebagai pulau penderitaan rakyat,' katanya dengan berapi-api. Dia juga tak mau dicap sebagai generasi terkutuk oleh generasi penerus lantaran tak bisa menyelamatkan Bali. Untuk itu, dia mengimbau pejabat dari menteri, gubernur, bupati, petani sampai nelayan bertekad bulat menyelamatkan Bali sebagai pulau surga.

Mandiranatha menyebut telah terjadi pelanggaran bhisama dan kawasan suci di Loloan Yeh Poh, Uluwatu, Silayukti, Tanah Lot, Serangan, Danau Buyan dan sekitarnya. Karena itu, dia menyampaikan tiga pernyataan sikap. Pertama, hentikan eksploitasi terhadap kawasan suci di seluruh Bali dengan dalih investor membangkitkan ekonomi masyarakat. Khususnya eksploitasi yang berdampak pada pelecehan agama, adat dan budaya serta menyinggung perasaan umat Hindu. Kedua, mohon Gubernur menindak tegas pelanggaran di kawasan suci sesuai dengan UU tata ruang, bhisama serta Perda 3/2005 tentang Tata Ruang Bali. Ketiga, setiap kebijakan dalam mengeluarkan izin yang bersinggungan dengan kawasan suci, pejabat di Bali hendaknya melibatkan PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu.

Secara bergiliran dia bersama sekretarisnya, Drs. Ida Bagus Purwa Tatwa, M.Si. dan I Gusti Ngurah Mendra berorasi di hadapan Gubernur Bali. Usai menyampaikan orasi, Gubernur Bali diminta kesediaannya melihat dua spanduk forum. Pertama bertuliskan 'Hati-hati dengan kapitalis yang berkonspirasi dengan pejabat untuk menjarah tanah Bali'. Kedua 'Stop pelecehan bhisama kesucian pura dan selamatkan Bali mulai saat ini'. Mandiranatha usai berdemo menyatakan akan mengawasi tindakan Gubernur Bali setelah keputusan tersebut. (sua)

Sekali Lagi trima kasih Kepada semua Krama Bali :D

Posting yang berhubungan



4 komentar:

Dewa said...

Peramax....
Good, akhirnya masalahnya selesai juga....

Sudarma said...

Dewa @ ae, syukur nyak kelar :D

www.katobengke.com said...

wah mau dijual...jangan....jangan....dong

Dewa said...

blom da post baru?
lama banget yang barunya?...
bosen deh...

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar anda untuk artikel ini :)